Sabtu, 13 April 2013

ewaldus chandra



ETIKA

    Etika (ethic) juga berbicara tentang baik buruk, tetapi konsep baik buruk dalam etika bersumber kepada kebudayaan, sementara konsep baik buruk dalam ilmu akhlak bertumpu kepada konsep wahyu, meskipun akal juga mempunyai kontribusi dalam menentukannya.
Dari segi ini maka dalam etika dikenal ada etika Barat, etika Timur dan sebagainya, sementara al akhlaq al karimah tidak mengenal konsep regional, meskipun perbedaan pendapat juga tidak dapat dihindarkan.
Etika juga sering diartikan sebagai norma-norma kepantasan (etiket), yakni apa yang dalam bahasa Arab disebut adab atau tatakrama.
Di Al Qur’an juga dikenal istilah al ma’ruf, yakni sesuatu yang secara sosial dipandang baik atau patut.Lawannya adalah al munkar, yaitu kejahatan yang diselimuti dengan logika, sekan-akan kebaikan.Dari istilah ini kita mengenal istilah amar ma’ruf nahy munkar.Sedangkan kejahatan murni disebut fahisyah atau fahsya.

Kesimpulan :etika sebagai norma-norma kepantasan (etiket), yakni apa yang dalam bahasa Arab disebut adab atau tatakrama.

Sumber : Ahmad Mubarok, 2009, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, hal. 24.



Nama : Ewaldus chandra

Nim : 2012210025

No hp :085750718503




Kepemimpinan (Leadership)

Leadership is the exercises of authority and the making of decisions
Maksudnya: Kepamimpinan adalah aktivitas para pemegang kekuasaan dan membuat keputn dan membuat keputusan.
   Stogdill, 1948:
Leadership is the process of influencing group activities toward goal setting and goal achievement.
Maksudnya: Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi aktivitas kelompok dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuan.
      H. Blanchard:
Adalah tercapainya tujuan melalui kerja sama kelompok.
    Ralph M. Stogdill, 1974:
Kepemimpinan adalah:    Suatu seni untuk menciptakan kesesuaian paham,
Leadership as the art of inducing compliance.
    Suatu bentuk persuasi dan inspirasi,
Leadership as a form of persuation.
      Suatu kepribadian yang mempunyai pengaruh,
Leadership as personality and its effects.
Kesimpulan : Kepamimpinan adalah aktivitas para pemegang kekuasaan dan membuat keputn dan membuat keputusan.

Sumber:
Wahjosumidjo, Kepemimpinan dan Motivasi, Ghalia Indonesia, 1984, h. 21-22.

Nama : ewaldus chandra
Nim : 2012210025
No hp : 085750718503



Kepemimpinan visioner

Kepemimpinan visioner, adalah pola kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kerja dan usaha yang perlu dilakukan bersama-sama oleh para anggota perusahaan dengan cara memberi arahan dan makna pada kerja dan usaha yang dilakukan berdasarkan visi yang jelas (Diana Kartanegara, 2003).
Kepemimpinan Visioner memerlukan kompetensi tertentu.Pemimipin visioner setidaknya harus memiliki empat kompetensi kunci sebagaimana dikemukakan oleh Burt Nanus (1992), yaitu: Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and motivation.”
Kesimpulan :kepemimpinan visioner adalah kepemimnan yang di tunjukan untuk memberikan kerja sama

Sumber : Stephen C. Harper. The Forward-Focused Organization: Visionary Thinking and Breakthrough Leadership to Create Your Company’s Future.New York, NY: AMACOM, American Management Association, 2001)

Nama : ewaldus chandra
Nim : 2012210025
No hp : 085750718503








Etika dan Filsafat Kepemimpinan

            Kepemimpinan berarti membuat orang menyukai hal-hal yang tidak menyenangkan. “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk membuat orang mengerjakan hal yang tidak mereka sukai, dan menyukainya”
Dimana terdapat kelompok manusia, komunitas, jamaah, atau umat yang hidup bersama (bermasyarakat), di sana diperlukan adanya suatu bentuk kepemimpinan dan kepengurusan yang berfungsi mengatur dan mengurus jalannya kehidupan dan hubungan antar manusia agar dinamis dan harmonis.
Kesimpulan :Kepemimpinan yang dibagikan adalah kepemimpinan yang berlipat ganda “Tidak seorangpun dapat menjadi seorang pemimpin besar jika ingin melakukan segalanya sendiri, atau mendapatkan semua pujian”

Sumber : Rachmat Ramadhana al-Banjari, Prophetic Leadership, Diva Press, Jogjakarta, 2008, hlm16.


Nama : ewaldus chandra
Nim : 2012210025
No hp : 085750718503










Patologi kepemimpinan

     Siagian (1994) mengemukakan bahwa patologi birokrasi dapat dikategorikan menjadi lima kelompok sebagai berikut: patologi yang timbul karena persepsi
dan gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi;
patologi yang disebabkan kurangya atau rendahnya pengetahuan dan
ketrampilan para petugas pelaksana
berbagai kegiatan operasional;patologi yang timbul karena tindakan
para anggota birokrasi yang melanggar norma-norma hukum dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku; patologi yang dimanifestasikan dalam
perilaku para birokrat yang bersifat disfungsional atau negatif;

Kesimpulan : Patologi yang merupakan akibat situasi internal dalam berbagai
instansi dalam lingkungan pemerintahan

Sumber : Manz, Charles C. & Henry P. Sims,Jr. 1990. Super-Leadership: Leading Others To Lead Themselves. New York: Berkley Books


Nama : ewaldus chandra
Nim : 2012210025
No hp : 085750718503








Etika publik
Etika Publik mulai serius dibahas setelah skandal “Watergate”, skandal ini memicu pengesahan “The Ethics in Government Act of 1978”, sejak itu orang menggunakan istilah “Etika Publik” karena focus pada “pelayanan publik”.
Dalam tanggung jawab pelayanan publik, integritas pribadi itu menjadi dasar integritas publik dengan dua modalitanya, yaitu akuntabilitas dan transparansi.
Jadi “Etika Publik” berawal dari keprihatinan terhadap pelayanan publik yang buruk karena konflik kepentingan dan korupsi.
Konflik kepentingan, korupsi dan birokrasi berbelit-belit, akan melemahkan komitmen pejabat publik pada nilai-nilai etika .
Korupsi menghakibatkan pejabat mengabaikan kepentingan publik dan lebih memperhatikan kepentingan diri atau kelompoknya dan buruknya pelayanan publik.
Etika publik menekankan bukan hanya kode etik atau norma, namun terutama dimensi refleksi.
Etika publik mau membantu dalam mempertimbangkan pilihan sarana kebijakan publik dan sekaligus sebagai alat evaluasi yang memperhitungkan konsekuensi etisnya.
Maka focus diarahkan ke modalitas etika, yaitu bagaimana menjembatani jurang antara norma moral (apa yang seharusnya dilakukan) dan tindakan factual.
Keprihatinan etika publik pada modalitas membedakan diri dengan ajaran-ajaran saleh atau moral yang lain.
Sehingga Etika Publik diperlukan untuk pembaharuan dan perbaikan pelayanan publik.
Kesimpulan : Dalam tanggung jawab pelayanan publik, integritas pribadi itu menjadi dasar integritas publik dengan dua modalitanya, yaitu akuntabilitas dan transparansi.
Jadi “Etika Publik” berawal dari keprihatinan terhadap pelayanan publik yang buruk karena konflik kepentingan dan korupsi.
Sumber : Haryatmoko, Etika Publik, Untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Kompas Gramedia, 2011.
Nama : ewaldus chandra
Nim : 2012210025
No hp : 085750718503

Nama                                       : EWALDUS CHANDRA
Nim                                        : 2012210025
Alamat Asal                           : entikong, Kalimantan barat , Indonesia
Alamat Sekarang                     : Jln. Tlagawarna no.99.a Tlogomas Malang Jawa Timur Indonesia
Blogger                                   : ewalduschandra@yahoo.co.id


















Menyetujui dosen                                                                                                                                      Mahasiswa




Sugeng Rusmiwari,Drs.,Msi                                                                                                               Ewaldus chandra


TUGAS

ETIKA DAN FILSAFAT KEPEMIMPINAN





OLEH
NAMA : EWALDUS CHANDRA
(2012210025)



PRODI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGA DEWI
MALANG
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar